Jumat, 02 Oktober 2009

Sejarah Kota Gede

MENENGOK kembali ke tujuh abad silam, Kota Gede merupakan kota kuno bekas ibu kota Kerajaan Mataram yang awalnya dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan di abad 16. Dari peninggalan di kawasan tua ini, terlihat bahwa Kota Gede merupakan jembatan yang menghubungkan tradisi Hindu-Budha-Islam. Peninggalan kompleks masjid makam Panembahan Senopati beserta keluarga, sisa peninggalan Kerajaan Mataram berupa pintu gerbang masuk komplek makam Kota Gede yang berbentuk gapura paduraksa – yang dikenal sejak zaman Majapahit – dan pohon beringin tua, masih tumbuh kokoh sampai sekarang.
Masyarakat Kota Gede yang mayoritas beragama Islam dikenal mempunyai etos kerja yang tinggi, mereka berdagang dan membuat kerajinan tangan dari perak. Kemampuan berdagang mereka dapat secara turun temurun. Pada masa kejayaan Mataram di Kota Gede, orang Kalang menjadi konglomerat pribumi dan orang di masa kini masih bisa menyaksikan kehebatan orang Kalang melalui ukiran yang dipahatkan pada kerangka bangunan rumah mereka. Sebuah pameran akan kemewahan di masa itu.
Terletak sekitar 10 km arah tenggara Kota Yogyakarta, kawasan ini tak hanya kaya akan berbagai peninggalan rumah tradisional seperti rumah Kalang tapi juga yang terpenting adalah peninggalan keahlian membuat kerajinan perak buatan tangan. Ketika gempa tahun 2006, kawasan ini terkena dampak yang parah. Gempa meleburkan banyak rumah tradisional peninggalan dari ratusan tahun lalu, joglo.
Termasuk makin terpuruknya kerajinan perak bahkan kerajinan yang merupakan bagian dari pusaka kawasan ini nyaris punah. Melihat kondisi pasca gempa, Universitas Gajah Mada (UGM) membeli sebuah rumah tradisional di Jagalan, Kota Gede. Rumah yang kemudian menjadi Pusat Gerakan Pusaka UGM ini diberi nama Omah UGM. Upaya ini menjadi bagian dari program jangka panjang UGM dalam rangka membantu komunitas lokal Kota Gede dalam rangka menghidupkan kembali kawasan pusaka mereka.Program ini memfokuskan pada usaha membangun ekonomi komunitas lokal melalui pengembangan pusaka tangible (pusaka benda) dan intangible (pusaka tak benda). Dua hal itu merupakan potensi tak ternilai untuk pembangunan ekonomi yang berkesinambungan.
Program revitalisasi Kawasan Pusaka Kota Gede ini diprakarsai oleh Pusaka Jogja Bangkit, sebuah kolaborasi antara Pusat Konservasi Pusaka Departemen Arsitektur UGM; Jogja Heritage Society; Indonesia Heritage Trust; dan ICOMOS Indonesia ditambah bantuan JICA, Total Indonesie, Exxon Mobile.Tak hanya bangunanDr Laretna Adishakti, dosen Arsitektur UGM sekaligus aktivis pusaka Jogja, menjelaskan, Indonesia baru di tahap awal gerakan konservasi pusaka. Gerakan konservasi pusaka di Indonesia terjadi di tahun 2003, Tahun Pusaka Indonesia, dengan mendeklrasikan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia. Di mana dalam piagam itu disebutkan, pusaka Indonesia adalah warisan alam, budaya, dan saujana (gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu).“Tapi pemerintah lebih memperhatikan pusaka budaya tingkat tinggi/monumen, sedangkan pusaka rakyat dibiarkan,” tandasnya.
Pusaka rakyat itu antara lain adalah kerajinan perak. Bukan hanya hasil kerajinan itu tapi kemampuan membuat perak itu juga harus dilestarikan. “Maka itu, Omah UGM ini bukan hanya menyelamatkan bangunan tradisional tapi juga fokus pada pelestarian pusaka rakyat baik yang bendawi maupun non bendawi, membangun capacity building. Termasuk juga memformulasikan master plan konservasi,” imbuh Sita, demikian ia biasa disapa.Program pelestarian kerajinan perak itu pun segera dimulai. Empatpuluh perajin perak yang masih semangat memproduksi perak dirangkul kemudian dibikinkan desain yang layak ditampilkan dalam pameran bahkan dijual ke mancanegara.
Para perajin itu, menurut Sita dan Ikaputra, pimpinan program kerajinan perak, tak menjual sendiri hasil karyanya.“Kita bikinkan desain yang fashionable sehingga kesan kuno itu hilang. Jadi perak bisa diterima di semua kalangan, kita yang memasarkan. Kita bikinkan catalog berbagai hasil kerajianan perak,” Ikaputra menjelaskan, bahkan sudah diikutsertakan dalam pameran di New York tahun lalu. “Dan responsnya bagus,” imbuhnya.Katalog hasil perak itu bisa dilihat di www.kotagedecrafts.multiply.com.
Semoga saja dengan keterbukaan dan dukungan berbagai pihak yang diharapkan makin sadar diri, upaya Omah UGM ini bisa terus berlanjut dan keahlian perajin perak Kotagede tetap lestari. Usaha Omah UGM layak ditiru oleh kota-kota pusaka lain di Indonesia ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar